Mengapa Anak Feeling-ku Pendiam?

Mengapa Anak Feeling-ku Pendiam?

oleh: Monde Ariezta

Pertanyaan seperti itu mungkin sering muncul, karena banyak orang beranggapan bahwa tipe Feeling itu suka ngomong, ceriwis, suka cerita ini itu, suka mengekspresikan emosi lewat kata-kata, komunikatif, jago mempengaruhi lewat retorikanya, dan lain sebagainya. Jadi ketika menemukan kenyataan orang Feeling yang pendiam, rasanya ada yang salah. Apakah jangan-jangan hasil tes STIFIn-nya salah?

Pendiam biasanya jadi ciri khas umum tipe Intuiting dan Thinking. Jadi kalau terjadi pada anak Sensing, Feeling, atau Insting, bisa jadi pertanyaan besar. Intuiting pendiam karena ia asosial dan sering berada di ‘dunianya sendiri’. Thinking pendiam karena ia seorang pemikir dan menjaga jarak dengan sekitarnya. Sensing tidak terbiasa menjadi pendiam karena ia kerap bergerak. Feeling tidak terbiasa menjadi pendiam karena ia komunikatif. Insting tidak terbiasa menjadi pendiam karena ia selalu occupied, yang membuatnya selalu sibuk. Sehingga jika menemukan Feeling pendiam, maka pendiam yang dimaksud biasanya adalah: tidak komunikatif, tidak banyak berkata-kata, atau tidak aktif berinteraksi sosial. Pertanyannya adalah, mengapa bisa begitu?

Banyak kemungkinan faktor yang menjadi penyebabnya. Bisa dari faktor eksternal seperti faktor fenotip (lingkungan), atau bisa juga dari faktor internal seperti faktor genetik (bawaan) dan kondisi diri (misal cacat fisik atau adanya suatu kekurangan diri yang menyebabkan minder atau hilang percaya diri). Namun prinsipnya, jika suatu traits atau ciri genetik tidak muncul berulang, masalahnya bukan pada genetiknya, tetapi lebih karena terpaan faktor eksternal. Komunikatif, banyak berkata-kata, dan aktif berinteraksi sosial adalah traits genetik tipe Feeling. Jika kemudian ketiga hal tersebut tidak muncul dalam jangka waktu lama atau tidak berulang, maka kemudian faktor penyebabnya adalah karena hasil terpaan faktor lingkungan yang tidak selaras dengan jalur genetiknya. Jikapun ada dari faktor genetik (misal karena golongan darah A atau B, atau kapasitas otak [IQ] yang di bawah rata-rata) maka pengaruhnya tidak akan terlalu besar, sebab dalam strata genetik, mestinya pengaruh Mesin Kecerdasan lebih besar. Kecuali jika faktor genetik yang berupa disorder, misalnya autisme.

Lalu seperti apa saja faktor eksternal yang membentuk kepribadian pendiam pada diri anak Feeling? Berikut antara lain:

1. Orangtua atau orang yang punya intensitas tinggi dalam berinteraksi dengan si anak sejak kecil. Banyak contoh yang mungkin dilakukan orang-orang ini kepada si anak Feeling sejak kecil, misal jarang mengajak bicara, jarang memberikan cerita, jarang memberi perhatian emosional dan sentuhan fisik, sering menyuruh anak untuk tidak mengeluarkan suara dari mulut, sering mendiamkan (jarang terjadi interaksi), si anak sudah panjang lebar bercerita atau bertanya tapi dikomentari atau dijawab seperlunya oleh orangtua, sering mencela si anak, dan lain sebagainya.

2. Ruang publik. Bisa jadi si anak Feeling ini berada pada lingkungan yang membuatnya menjadi pendiam, membuatnya menjadi lebih suka diam daripada aktif, membuat si anak menjadi pemikir keras daripada emosional, lingkungan yang baik secara sengaja maupun tidak sengaja melakukan pembatasan-pembatasan, lingkungan yang tertutup, lingkungan rahasia, dan lain sebagainya.

3. Pola pembiasaan. Bisa jadi si anak Feeling ini dibiasakan untuk “kupu-kupu” (keluar-pulang, keluar-pulang; tidak diberi waktu yang optimal untuk berinteraksi di luar rumah, sementara di rumah pun si anak malah sering didiamkan), sering dibiasakan untuk diam di kamar, sering diberikan informasi tentang dunia luar yang banyak bahaya, dan lain sebagainya.

4. Tragedi. Bisa jadi si anak pernah menerima sebuah tragedi atau input psikologis yang membuat dirinya trauma, shock, kehilangan rasa percaya diri, atau kondisi psikologis lainnya.

Pastikan keempat hal di atas dapat dikondisikan dengan baik jika ingin membuat anak Feeling ini lebih aktif berkomunikasi dan berinteraksi sosial guna menjadi pribadi yang lebih berpengaruh di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *