Inilah Penyebab Nilai Akademis Anak Sensing Gak Bagus-Bagus Amat

Inilah Penyebab Nilai Akademis Anak Sensing Gak Bagus-Bagus Amat

oleh: Monde Ariezta

Saya, dan mungkin juga Anda, sering menemukan fakta bahwa anak Sensing dikenal sebagai anak yang nilai akademisnya gak bagus-bagus amat. Banyak sudah cerita dari para orangtua yang mengeluhkan anaknya yang Sensing yang tema ceritanya sama: permasalahan nilai akademis. Di sisi lain, keluhan yang diceritakan umumnya seputar: anaknya gak mau diem kalo lagi belajar, anaknya “lola” mesti diulang-ulang baru ngerti, anaknya sering lari-lari di dalem kelas saat guru ngajar, anaknya sering ganggu temen sekelasnya, anaknya mesti dikasih duit dulu baru semangat belajar, anaknya sering main daripada belajar, anaknya gak kreatif mesti dikasih contoh mulu baru ngerti, anaknya pingin ditemenin mulu kalo belajar, dan lain-lain. Pertanyaannya, mengapa anak Sensing bisa seperti itu?

Sensing, sesuai namanya, adalah orang yang segala sesuatunya mesti terjangkau oleh sense-nya, atau panca indranya. Sehingga, dia adalah tipe yang segala sesuatunya mesti konkrit dan jelas. Dari hal ini saja, kita bisa memaklumi jika akhirnya anak Sensing selalu butuh contoh, butuh dorongan atau tarikan konkrit (misalnya diberi uang, imbalan, dan sparring) sehingga ia transaksional dan selalu ingin ditemani oleh sparring-nya. Selain itu, kekuatan utama Sensing ada pada motoriknya. Motoriknya inilah yang membuatnya –disadarinya atau tidak– selalu aktif bergerak dan menggerakkan bagian tubuhnya. Maka dari hal ini pun, kita sudah bisa paham mengapa ia tidak mau diam kalau sedang belajar, sering lari-lari di kelas saat guru mengajar, sering ganggu teman sekelasnya (terutama kepada temannya yang pendiam; di pikirannya ia menganggap lingkungan sekitarnya mesti bergerak), lebih senang main daripada belajar, dan sebagainya.

Selain itu, kalau boleh jujur, sejak awal modalnya kecil dalam hal otaknya untuk urusan akademis sebab kelebihannya di otak limbik. Sementara untuk urusan akademis, akan lebih mudah dicapai oleh anak yang unggul di otak neokortek seperti anak Thinking dan Intuiting. Jadi, jika neokortek adalah otak akademis dan intelektual, maka otak limbik adalah otak emosi dan sosial. Wajar jika anak S ini lebih tertarik mengurusi pemenuhan emosi dan lebih aktif berinteraksi sosial. Kecuali jika IQ nya tinggi, maka masih memungkinkan untuk ia unggul di akademis.

Lalu solusinya seperti apa?

Silakan ikuti poin-poin penting berikut :
1. Jangan tuntut dia untuk seperti anak lain yang unggul di akademis.
Jika dia mampu unggul, alhamdulillah. Tapi jikapun tidak unggul, tak perlu jadi beban pikiran Anda. Jika prestasi akademisnya ada di angka aman, itu sudah cukup. Asalkan jangan di angka yang terlalu bawah. Jadi, tidak perlu menargetkan dirinya juara kelas, hanya jika dia mau dan mampu. Dengan begitu, Anda tidak akan berekspektasi lebih kepada si anak. Unggulkanlah si anak di bidang lain yang memungkinkan dia lebih optimal di situ, seperti olahraga, bahasa, perniagaan, dan prestasi non-akademik.

2. Biarkan dia belajar sambil terus bergerak.
Jika selama ini dia belajar sambil tiduran guling-guling, mondar-mandir, lari-lari, menggerakkan tangannya, mengoyang-goyangkan kepala atau badannya, dan sebagainya, maka biarkanlah seperti itu. Jangan dilarang, jangan disuruh diam. Jika menurut logika Anda belajar hanya akan masuk ilmunya jika diam dan duduk tenang, maka itu hanya ada di logika Anda. Faktanya, anak Sensing akan lebih mudah menyerap ilmu jika belajar sambil aktif bergerak. Itu karena proses belajarnya dibantu oleh sebuah memori unik yang disebut memori otot atau Myelin. Myelin akan tumbuh jika suatu peristiwa belajar dijangkarkan dengan gerakan. Carikan juga lingkungan belajar yang bisa “memanasi” dia untuk terus bergerak mencapai target.

3. Bantu pemahaman belajarnya dengan memberikan contoh-contoh konkrit.
Jangan paksa dia harus cari sendiri solusi untuk menyelesaikan rumus matematika misalnya. Coba perlihatkan dulu padanya contoh atau simulasi mengerjakan rumus tersebut. Setelah paham dengan contohnya, maka Anda bisa meninggalkannya belajar sendiri. Jangan paksa dia membayangkan sesuatu yang menuntutnya berimajinasi liar atau membayangkan sesuatu yang belum pernah terekam lewat panca indranya selama hidupnya. Ibaratnya, meminta ia membayangkan gajah berkepala ular dan memiliki mata unta, itu akan jauh lebih sulit ia lakukan dibanding memberikan gambar wujud hewan tersebut.

4. Hidupkan karakteristik rajin dan ensiklopediknya untuk mendukung belajarnya.
Sebenarnya anak Sensing punya modal untuk lebih rajin dan lebih ensiklopedik dibanding anak tipe lain. Maka bangun kebiasaan dan kesungguhan rajin pada dirinya. Misal dengan aktif mengajaknya bangun lebih pagi, menjadi “teman bertanding” (sparring partner) untuk sama-sama mencapai target (misal dibuat kesepekatan, sore ini mama akan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sebanyak-banyaknya dalam 1 jam, si anak akan belajar sebanyak-banyaknya dalam 1 jam, kita lihat di akhir siapa yang paling banyak mengejar target), ajak si anak untuk olahraga bareng, libatkan dalam sebuah permainan/games mengingat hal-hal penting dalam pelajaran misal lewat kartu kuartet atau kartu hafalan, gunakan metode mnemonik dan pengulangan hafalan untuk meningkatkan pemahamannya, dan sebagainya.

5. Jadilah teladan yang baik di depan matanya.
Anak Sensing adalah peniru ulung. Dia mungkin malas belajar karena melihat orangtuanya tak rajin beraktivitas, dan lebih sering terlihat santai-santai dengan gadget. Dia mungkin lebih senang bermain di jam belajarnya karena sering melihat orangtuanya jarang di rumah untuk menemaninya belajar. Dia mungkin malas sholat tepat waktu karena sering melihat orangtuanya tidak sholat tepat waktu, dan lain-lain. Jika ingin dia rajin belajar atau pintar, maka orangtuanya mesti juga rajin belajar dan berhasil memperlihatkan suatu keberhasilan dengan kepintarannya. Dengan begitu si anak bisa melihat contoh/bukti konkrit, bahwa orangtuanya sering berhasil berkat belajar dan menjadi pintar. Ia akan meneladani orangtuanya. Carikan pula lingkungan yang teman-temannya positif, karena ia akan mencontoh teman-temannya itu.

Saya sering mendapatkan klien orangtua yang mengeluh tentang anaknya yang Sensing. Nilai raportnya sejak dulu selalu pas-pasan, prestasi akademisnya pun tidak begitu bagus. Tapi di satu sisi si anak pandai berjualan apapun di sekolahnya. Intinya mereka lebih pandai dalam hal berdagang daripada dalam hal pelajaran. Setelah saya sampaikan ke orangtuanya kelima poin di atas dan kemudian dipraktekkan mereka, alhamdulillah kini prestasi akademis anak Sensing mereka meningkat pesat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *