Insting yang Selalu Mengalah

Insting yang Selalu Mengalah

oleh: Monde Ariezta

”Ya udah, gak apa-apa.
”Terserah. Aku ngikut aja.”
Mungkin itulah beberapa kalimat khas yang sering diucapkan orang Insting. Ketika semestinya ia mendapatkan hak penuh tapi ternyata sebagian haknya terambil oleh orang lain, akhirnya dia bilang, “ya udah, gak apa-apa”. Ketika bagi-bagi makanan, tapi dia hanya kebagian sisanya, akhirnya dia bilang, “ya udah, gak apa-apa”. Ketika dia ingin pergi bersama teman-temannya ke suatu tempat yang sangat dia inginkan, tapi kemudian teman-temannya sepakat untuk pergi ke tempat yang lain, akhirnya si Insting bilang, “terserah, aku ngikut aja”. Setelah melewati perdebatan dan diskusi yang alot untuk memperjuangkan keinginannya, dan apa yang ia perjuangkan tidak berhasil dicapai, akhirnya dia bilang. “terserah, aku ngikut aja”.

Setidaknya, ada 4 kepribadian khas Insting yang membuatnya selalu mengalah, yaitu altruistic (rela berkorban), compromising (mau mengalah; menerima standar yang lebih rendah dari yang diharapkan), forgiving (mudah memaafkan), dan peaceful (tidak suka konflik). Wajar jika kemudian Insting kerap muncul sebagai sosok yang selalu mengalah. Pertanyaannya, apakah hal ini baik untuk dirinya?

Tergantung pada kondisi apa hal seperti itu terjadi. Jika mungkin dalam rangka menghindari konflik dan dia pun sebetulnya tidak menganggap hal itu urgen dalam pemenuhan haknya, maka bisa jadi itu baik. Namun jika hal itu seringkali terjadi di setiap kesempatan dan lebih penting untuk ia mendapatkan haknya, maka bisa jadi itu tidak baik. Ia perlu mampu menempatkan diri, kapan ia asertif (tegas menuntut hak) untuk orang lain, kapan ia asertif untuk diri sendiri.

Salah satu peran penting orang Insting adalah sebagai penengah. Maka sebagai penengah, ia perlu memiliki ketegasan, sikap asertif, dan kemampuan mengakomodasi yang baik. Untuk memunculkan kemampuan-kemampuan itu, maka sikap selalu mengalah perlu diminimalisir. Salah satu caranya adalah dengan berfokus pada memperjuangkan kebutuhan orang lain. Demi orang lain senang, ia pantang mengalah dari orang yang lainnya, dan sebaliknya. Ia lakukan itu sampai konflik antar orang lain tadi terselesaikan. Di saat seperti itulah contoh ketika ia perlu asertif untuk orang lain.

Kemudian orang Insting yang kurang nyaman jika berada pada titik teratas (misal terlalu banyak harta, terlalu berkuasa, terlalu tinggi ilmunya, terlalu populer) maupun pada titik terbawah (misal miskin, tidak bisa berbuat apa-apa, lemah pengetahuan, tidak dianggap oleh siapapun), membuat dia lebih nyaman selalu berada pada titik tengah. Saat berada di titik tengah, ia cenderung merasa bahagia. Untuk mencapai titik bahagia ini, ia perlu memenuhi kebutuhan dirinya dengan baik dan proporsional. Bagaimana cara ia memenuhi kebutuhan (hak) dirinya? Gunakan salah satu kelebihan yang sudah Tuhan berikan dalam genetikanya, yaitu “jujur dan polos”. Jika ia ditawari makanan yang tidak ia sukai, tak perlulah ia berpura-pura bilang “iya” atau “suka”, katakanlah dengan jujur dan polos, “terimakasih, tapi maaf saya sebetulnya tidak suka makanan itu, jadi saya tidak akan memakannya.” Di saat seperti itulah contoh ketika ia perlu asertif untuk diri sendiri.

Bagaimana jika jujur dan polosnya tidak ia latih secara positif? Maka ia akan tumbuh jadi manusia naif (selalu mengatakan bukan yang sebenarnya). Jika ia terus naif, maka kebohongan demi kebohongan akan selalu muncul, demi menyenangkan orang lain. Jika kenaifan ini terus ada pada dirinya, maka bukan tidak mungkin ia akan muncul menjadi sosok yang munafik.

Sebagai orang Insting, ia perlu bersabar dengan sifat selalu mengalah dan kenaifan. Tetapi di satu sisi, ia perlu banyak bersyukur dengan kelebihannya yang jujur dan polos. Sehingga, kelemahannya sebagai sosok yang selalu mengalah, tidak punya prinsip, naif, dan kurang asertif, akan teratasi dengan sendirinya.

Be happy, with honesty!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *