Mindset ‘Mematikan’ Anak

oleh: Khotibul Umam

Setiap anak terlahir dengan cerdas. Tidak ada anak yang terlahir ‘bodoh’ atau bahkan terlahir hanya dengan kelemahan semata. Anak terlahir dengan membawa ‘paket’ kekuatan terbaiknya dan kelemahannya masing-masing.

Tapi sayangnya, masih banyak ‘pihak’ (khususnya orang tua) yang hanya sibuk melihat sisi lemah anak dan berusaha menggembleng kelemahan anak-anak mereka.

Kemana kekuatan si anak?
Hhmmmm……..
Banyak orang tua yang berusaha menggembleng bahkan mengkursuskan kelemahan anaknya. Tidak ada lagi upaya serius bagaimana menggembleng kekuatan yang dimiliki ananda. Dimana kekuatan itulah sebenarnya ‘harta karun’ termahal yang dimiliki si anak. Kekuatan yang merupakan potensi genetik anugerah tuhan bawaan lahir.

Banyak orang tua menjadi gelisah, rempong, dan bahkan galau gara-gara si anak belum lancar menulis, membaca, atau menghitung. Orang tua fokus pada apa kelemahan mereka tapi kurang begitu peduli pada upaya bagaimana mengangkat potensi mereka menjadi ‘berlian’ yang sangat berharga. Inilah awal munculnya anggapan salah pada anak. Anak dipaksa menjadi seperti harapan dan impian orang tua. Seolah “anak adalah orang dewasa mini” yang siap dibentuk sesuai keinginan orang tua.

Yang ‘extream’ adalah anggapan berbahaya:
– Aktif sedikit sudah dianggap HDHD.
– beda dari temen-temenya dianggap autis.
– banyak ngomong dianggap over age
Alhasil, anak tumbuh di bawah anggapan orang tua yang sejatinya malah mengekang mereka.

BUKA HATI & PIKIRAN KITA
Sebagai orang tua kita dituntut untuk benar-benar memahami tumbuh kembang mereka. Selayaknya kita mengenali dengan persis apa jenis mesin kecerdasan mereka dan personality genetik setiap anak. Agar kita sebagai orang tua tidak salah dalam pola asah, asih, dan asuh pada anak-anak kita. Biarkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usianya. Tetap fokus penggemblengan kekuatan ananda. Bukan hanya melihat sisi lemah dari ananda.

Jika Ananda SENSING, biarkan mereka lebih aktif dan belajar dengan kekuatan memorinya dan banyak diberikan contoh dalam setiap apa yang mereka pelajari. Latih dengan banyak hafalan dan hobi menandai bacaan.

Jika ananda THINKING, stimulus kekuatan analisa dan kepandaiannya untuk mampu mempelajari banyak hal dan hebat dalam hitungan dan ilmu eksakta. Latih mereka dengan banyak membaca dan hobi mengerjakan soal latihan.

Jika ananda INTUITING, berikan latihan yang mengasah imajinasinya sebagai wahana eksplorasi kreatifitasnya. Latih mereka dengan banyak menulis dan hobi menggambar.

Jika Ananda FEELING, jadikan kekuatan emosinya menjadi alat kontrol dan sensor paling tajam terhadap apa yang mereka pelajari dan setiap informasi yang diterima. Latih banyak mendengar dan hobi curhatan.

Jika ananda INSTING, bantu mereka dalamh mengasah keserba-bisaannya. Latih merangkum dan hobi terlibat dalam banyak kegiatan.

Jangan paksakan mereka ‘hebat’ tidak sesuai penciptaan terbaiknya. Fokuslah memfasilitasi dan memotivasi mereka sesuai kekuatan terbaiknya.

TIDAK PERLU KITA:
– melatih kupu-kupu berenang
– melatih ikan terbang
– melatih kura-kura lari
– melatih sapi memanjat pohon
– melatih anak yang hebat IT, menjadi politisi.

“Orang tua hebat adalah orang tua yang mampu menjadikan ananda lebih baik darinya”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *