Perbedaan Intuiting yang Imajinatif dan Pengkhayal

Perbedaan Intuiting yang Imajinatif dan Pengkhayal

oleh: Monde Ariezta

Saat ini (Februari 2019) sedang hangat pemberitaan seorang pengamat politik yang dilaporkan ke polisi karena ia mengatakan kitab suci itu fiksi. Saya tidak akan membahas soal poin kitab sucinya di artikel ini karena itu bukan kapasitas saya, tetapi ingin membahas pada poin fiksi. Saya setuju dengan pendapat pengamat politik tersebut yang menyatakan di keterangannya bahwa fiksi adalah suatu kata benda yang merupakan energi untuk mengaktifkan imajinasi. Lalu, mengapa imajinasi yang diaktifkan? Mengapa bukan khayalan?

Lawan fiksi adalah realitas. Fiksi banyak diproses di otak kanan, sementara realitas banyak diproses di otak kiri. Jika dikerucutkan lagi, meskipun pengguna otak kanan adalah Intuiting dan Feeling, namun fiksi lebih banyak dieksplorasi oleh Intuiting, dan meskipun pengguna otak kiri adalah Sensing dan Thinking, namun realitas lebih banyak digunakan oleh Sensing. Dalam STIFIn, tentu saja Sensing dan Intuiting adalah tipe yang bertolak belakang. Sensing lebih banyak menggunakan realitas untuk sampai pada tujuan, dan Intuiting lebih banyak menjelajahi fiksi untuk sampai pada tujuan. Dua-duanya akan sampai pada tujuan meski dengan cara yang berbeda, dan fiksi maupun realitas dua-duanya adalah energi positif.

Di satu sisi, Intuiting juga punya kemampuan membangun fiktif (kepalsuan), dan Sensing punya kemampuan membangun fakta. Fiktif memang lawan katanya fakta. Fiksi mengaktifkan imajinasi, sementara fiktif mengaktifkan khayalan. Dari sini sudah jelas perbedaan dasar Intuiting yang imajinatif dan pengkhayal, bahwa Intuiting imajinatif adalah yang lebih banyak menggunakan energi fiksi yang bermuatan energi positif, sedangkan Intuiting pengkhayal adalah yang lebih banyak menggunakan energi fiktif yang bermuatan energi negatif.

Cita-cita adalah hasil imajinasi karena dibangun oleh fiksi. Saat ditanya “apa cita-citamu?”, kemudian otak segera membangun proses fiksi untuk memunculkan harapan dan tujuan. Lain halnya jika ditanya ”apa yang sedang kamu kerjakan saat ini?”, maka otak segera melihat pada realitas. Fiksi akan membuatnya mampu membayangkan dirinya di masa depan dengan cita-cita itu, sementara realitas tidak mungkin akan membuatnya mampu menggambarkan bayangan dirinya di masa depan. Cita-cita perlu dibangun oleh fiksi dan imajinasi, sebab jika dibangun oleh realitas maka cita-cita tidak akan pernah setinggi langit karena selalu melihat kenyataan yang ada saat ini.

Ketika cita-cita dibangun oleh realitas kemudian terus dipaksakan, yang akan terjadi adalah khayalan. Ia kemudian akan memunculkan gambaran masa depannya dalam bentuk khayalan, karena proses penjelajahan ke masa depannya terikat oleh realitas. Jadi kira-kira kalau dibuat sebuah narasi: ”Apa cita-citamu?” “Cita-citaku ingin jadi pengusaha transportasi nomor satu di Indonesia, tapi sepertinya tidak mungkin, sebab realitasnya saat ini aku hanyalah tukang becak, jadi cita-cita demikian hanyalah khayalan bagiku.” Akhirnya, tidak ada aksi dari orang itu untuk menjemput cita-citanya.

Dari penjelasan di atas, maka didapat poin-poin antara lain:
1. Intuiting yang cerdas adalah yang imajinatif, bukan pengkhayal.
2. Intuiting yang imajinatif lebih sering memainkan fungsi fiksi, bukan fungsi fiktif atau kepalsuan.
3. Intuiting yang fiksi, akan kaya dengan imajinasi, gagasan, dan pencapaian dengan lompatan-lompatan kuantum. Intuiting yang fiktif, akan kaya dengan kepalsuan, kebohongan, mengarang cerita, dan tidak ada pencapaian besar karena ia kalah oleh realitas dan hanya berputar-putar di khayalan.
4. Intuiting yang imajinatif, akan memiliki cita-cita dan impian yang besar. Intuiting yang pengkhayal, akan memiliki kebingungan arah dan impian yang kerdil.
5. Intuiting yang imajinatif dapat dibuktikan dengan lahirnya karya-karya (misal lukisan, karya seni, buku, tulisan, teknologi, dll.) dan pemikiran atau gagasan dari dirinya. Intuiting yang pengkhayal dapat dibuktikan dengan lahirnya bualan, pandai berbohong, stagnasi hidup, hingga madness (kegilaan).
6. Intuiting yang imajinatif mampu menggambarkan (imagine) apa yang mungkin terjadi di masa depan (prediksi) sehingga ia mampu menjadi trendsetter dan pemicu peradaban. Intuiting yang pengkhayal hanya hidup di lorong waktu seolah-olah semua bisa terjadi, dan dia hanya menjadi follower serta tenggelam oleh peradaban.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana agar Intuiting menjadi lebih imajinatif? Perbanyaklah bermain dengan fiksi di otaknya. Ada beberapa prinsip dasar mengoptimalkan fiksi di otaknya. Salah satu prinsip dasarnya adalah, jangan terlalu terpaku dengan realitas. Biarkan realitas jadi cara Sensing untuk mencapai tujuannya. Fokuslah pada keberanian memunculkan gagasan dan hipotesis. STIFIn mengajak manusia untuk fokus mengoptimalkan kelebihannya. Kelebihan Intuiting adalah menggunakan fiksi dan imajinasi, karena fungsi neokortek kanan memang sangat mendukungnya 100%. Biarkan anak-anak Intuiting Anda bermain dengan fiksi, jangan diredam oleh realitas-realitas dari pemikiran Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *